ALUMNI PROFILE

Bonnie Triyana lahir di Rangkasbitung pada 1979. Pendidikan tingginya diselesaikan di Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro tahun 2003. Ia meniti karir profesional sebagai sejarawan dan kurator museum. Pada 2010, ia mendirikan Majalah Historia, majalah sejarah populer pertama di Indonesia. Bonnie juga tergabung dalam Tim Repatriasi Koleksi asal Indonesia yang berhasil memulangkan 472 artefak dari Belanda. Karirnya terus berkembang hingga dipercaya menjadi kurator tamu di Rijksmuseum Amsterdam. Saat ini, Bonnie menjabat Anggota DPR Republik Indonesia masa jabatan 2024‒2029.

Picture1
BU NUNUK

Nunuk Suryani adalah dosen dan guru besar di Universitas Sebelas Maret. Nunuk menyelesaikan pendidikan Strata-1 di Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro tahun 1989. Selain aktif sebagai dosen, Nunuk memiliki pengalaman menjabat Kepala Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (2017‒2020); Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (2020‒2022); dan saat ini menjabat Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Harto Juwono adalah sejarawan, dosen di Program Studi Ilmu Sejarah UNS, dan konsultan ahli di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Harto yang merupakan alumnus Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro dikenal memiliki keahlian dalam bidang legal history. Riwayat karirnya sebagai praktisi di BUMN meliputi konsultan ahli di PT. PLN Persero (2012-2016), PT. KAI Persero (2013-2020), dan PT. Pertamina Persero (2019-2022). Sebagai sejarawan dan dosen, banyak karya yang telah diterbitkan, di antaranya “Recht van Eigendom and Inlandsch Eigendom: A Study of Landownership in Colonial Indonesia” dan “From Bengal to Java: Raffles’ Landrente in Indonesian Agrarian System” terbit di Jurnal IHiS (Indonesian Historical Studies); “Legal Dualism in Native Christian Marriage Law in The Dutch East Indies (19th–20th Centuries)” terbit di Theological Journal Kerugma; dan “Gelijkgesteld: The Change of Chinese Legal Status Under Indonesian Colonial Structure” terbit di Mandarinable: Journal of Chinese Studies.

Pak Harto