Seminar Nasional “Merawat Memori Kolektif, Memperkuat Integrasi Bangsa”

Melanjutkan agenda Musyawarah Nasional (Munas) III Perkumpulan Prodi Sejarah se-Indonesia (PPSI) yang dihelat pada Sabtu (17/11/2018), pada Minggu (18/11/2018) digelar Seminar Nasional (Semnas) dengan tema “Merawat Memori Kolektif, Memperkuat Integrasi Bangsa”. Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan komunikasi akademik di antara para sejarawan ini dibuka oleh Prof. Dr. Ir. Ambariyanto, M. Sc., selaku Wakil Rektor (Warek) IV.

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, persoalan integrasi bangsa memang masih saja menjadi persoalan yang mengemuka dan terus menjadi bahan kajian di banyak forum seminar. Integrasi bangsa yang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai usaha dan proses mempersatukan perbedaan, sehingga tercapai keserasian dan keselarasan nasional itu dapat terus diupayakan melalui penyadaran sejarah bangsa.

Dr. Dhanang Respati Puguh, M. Hum. selaku Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP) sekaligus Ketua PPSI memberikan sambutan untuk mengawali seminar yang merupakan tradisi pada setiap penyelenggaraan Munas PPSI. Ia menyampaikan bahwa beberapa persoalan bangsa berkaitan dengan disintegrasi juga dibahas pada forum yang diharapkan dapat menumbuhkan ide, gagasan, dan pengalaman, sehingga pada akhirnya dapat menjadi solusi dalam menghadapi persoalan disintegrasi bangsa. “Semoga dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu sejarah dan penyelesaian persoalan-persoalan disintegrasi bangsa Indonesia.” Ungkapnya.

Pembicara kunci pada seminar yang digelar di Gedung Serbaguna (GSG) FIB UNDIP ini adalah Prof. Dr. Sa’id Hamid Hasan, M.A. (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung), Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M. Hum. (Universitas Indonesia, Jakarta), Dr. Jajat Burhanuddin, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), dan Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M. Hum. (UNDIP, Semarang). Tidak kurang dari 70 artikel disajikan oleh para pemakalah yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia pada acara yang terselenggara berkat kerja sama antara Departemen Sejarah FIB UNDIP, PPSI, serta Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI).